Search

5 Senses Reading

Remediate Life through Media

Ariana Grande ‘Honeymoon Avenue’ Lyrics Intrepetations

Honeymoon Avenue is one my favourite of Ariana Grande’s songs from her first album titled Yous Truly. I will tell you about the lyrics enterpretation in Bahasa Indonesia.

This song tells the listener or audience about a kind of common problematical of lover in relationship about vapidity of being relationship or might be changes in the pattern of relationships with several factors. In other side, the lover really wants to end that messy circumstances. This could happen to all peoples who build an intimate relationship in every case. The lyrics will not show you the meaning directly. The lyrics use metaphor sentences. So, the real message or meaning from this song is implied by the song-writer. Honeymoon Avenue is a metaphor to describe the best time in relationship period (mostly a lovely time).

I will make the plot in some sentences about the sense, message or meaning from the lyrics by stanza per stanza as clear as possible.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ariana Grande – Honeymoon Avenue

I looked in my rearview mirror and

It seemed to make a lot more sense

Than what I see ahead of us, ahead of us, yeah.

I’m ready to make that turn

Before we both crash and burn

Cause that could be the death of us, the death of us, baby

 

Aku teringat pada masa lampau, dan hal itu membuatnya semakin kentara saja. Berbanding terbalik dengan yang sedang terjadi saat ini.

Lalu, kusaksikan apa yang akan terjadi pada kita di masa yang akan datang. Rasanya janggal, seperti melihat perbedaan antara langit dan bumi.

Aku harap kita dapat kembali.

Masa ketika kita tidak seperti yang sekarang. Kita menghadapi terlalu banyak masalah hingga perselisihan tak dapat dihindari.

Kita tak pernah berencana untuk jadi seperti ini, tapi kita pun tak mampu menghentikannya. Seperti bencana yang tiba-tiba datang dan meluluhlantakkan semua yang ada disekelilingnya.

Semua ini seperti bumerang yang dengan sengaja kita lempar. Masalah yang kita buat sendiri.

 

You know how to drive in rain

And you decided not to make a change

Stuck in the same old lane

Going the wrong way home

Kau sadar. Kau pun tahu kita mampu melewatinya jika berupaya, tapi kau memilih kita berdua untuk tetap menjadi gila bersama semua kekacauan ini.

Kita tak pernah temukan celah untuk menyelesaikan masalah. Hanya mengulangi kesalahan dan kembali tak mampu menuntaskannya. Begitu terus hingga muak.

Bukan ini tujuan kamu dan aku dulu. Kita tersesat dalam kegilaan yang kacau ini.

 

 

I feel like my heart is stuck in bumper to bumper traffic,

I’m under pressure

Cause I can’t have you the way that I want

Let’s just go back to the way it was

 

Sepertinya rasa cintaku pun tersesat. Menyerah agar dapat kembali pulang.

Aku frustasi. Aku harus apa, aku bisa apa?

Kita tak mungkin kembali jika hanya aku yang menghendakinya.

Tidak bisakah kita seperti dahulu lagi? Menyatukan pikiran, atau apalah itu. Asalkan bersama seperti dulu lagi.

 

 

When we were on Honeymoon Avenue

Honeymoon Avenue

Baby, coastin’ like crazy

Can we get back to the way it was?

 

Seperti dulu ketika melewati segalanya dengan cinta.

Yang bahkan tak sedetikpun aku ingin lupa apalagi melewatkannya.

Jangan seperti sekarang. Kita hilang kendali.

Aku ingin kamu yang dulu!

 

 

Hey, what happened to the butterflies?

Guess they encountered that stop sign

And my heart is at a yellow light, a yellow light

Hey, right when I think that we found it,

Well, that’s when we start turning around

You’re saying, “Baby, don’t worry,”

But we’re still going the wrong way, baby

 

Ke mana perginya semua cinta itu?

Jangan bilang cintamu hilang begitu saja.

Serasa di ujung tanduk, tak bisa sabar lagi. Aku telah bersiap untuk segala kemungkinan kembali yang menunggu di depan mata.

Saat kurasa kita hampir memecahkan masalah ini, saat itu juga kita kembali temukan masalah.

Bisa-bisanya kamu berlagak seolah kita baik-baik saja, padahal kita tidak!

Kita harus menyelesaikan ini. Sadar tidak, sih?

 

 

They say only fools fall in love

Well, they must’ve been talking about us

and sometimes I feel like I’ve been here before

I could be wrong, but I know I’m right

We gon’ be lost if we continue to fight

Honey I know, yeah,

We can find our way home

 

Kata orang, hanya orang bodoh yang jatuh cinta.

Yah, pasti yang mereka maksud adalah kita.

Dulu kukira mereka yang bodoh tak tahu cinta apa rasanya. Tapi sekarang sepertinya kita yang bodoh.

Masalah kita seperti kaset lama! Kusut!

Satu yang kutahu, ‘kita’ tak akan pernah kembali jika kau masih ingin bergelung dan benar-benar tidak bisa kembali. Aku lelah dan kuyakin kaupun sama.

Kita tidak bodoh. Kita akan mabuk dan sinting berdua lagi. Kita akan kembali, pokoknya kembali. Tidak akan ada ‘kau’ atau ‘aku’, hanya ada ‘kita’.

Audience Immaturity: The Role of Female Identity in Media Industry between Degeneration of Morality.

Industri media adalah salah satu yang terbesar dalam bidang industri. Dalam industri media, terbagi lagi bidang industri yang memiliki kekuatan besar pada produktifitas pasar, salah satunya adalah industri musik. Titik acunya berada pada aktifitas konsumsi masal pada segala macam bentuk komoditas hasil karya dari industri musik sendiri.

Hasil karya dari bidang industri musik yang menjadi konsumsi masal dapat digolongkan menjadi dua macam: bersifat fisik dan non fisik. Video Compact Disc, Compact Disc, vinyl, termasuk komoditas yang digolongkan dapat dinikmati secara bentuk fisiknya. Tapi dengan semakin majunya teknologi khususnya dalam musik, semakin sedikit yang memproduksi komoditas yang bersifat fisik karena alasan kurang efisien. Contoh komoditas produk industri musik non fisik yang banyak dikonsumsi saat ini adalah digital version.

Social media adalah salah satu wahana yang menjembatani para pelaku musik menyampaikan karyanya kepada para penikmat. Melalui social media, segala macam media yang berbentuk digital semakin menjadi wahana yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh karena itu, kita mengenal adanya istilah yang sering diketahui saat ini sebagai digital era.

Youtube adalah salah satu social media yang saat ini ramai digunakan para pelaku industri musik dalam publikasi karya. Konten yang terdapat pada social media ini adalah video. Jutaaan bahkan lebih kumpulan video dalam beragam jenis, dari berbagai negara, bebas ditonton hanya dengan menggunakan koneksi internet. Namun, Youtube memiliki aturan proteksi beberapa video yang memerlukan legalisasi data diri dari si pengguna. Beberapa video juga tidak dapat ditonton di negara-negara tertentu. Biasanya video yang diproteksi adalah video-video dengan kategori Rated. Bahkan kebebasan pun selalu punya batasan.

Semakin bebasnya audience mengakses informasi apa pun dari media, serta semakin bebasnya media memberi akses kepada audience untuk segala macam kebutuhan informasi, semakin pula menurunnya tingkat kedewasaan agar melek media dalam penggunaannya. Pada Youtube, music video milik akun ArianaGrandeVevo yang berjudul Ariana Grande – Dangerous Woman (Visual 1) dapat dilihat sebagai contoh.

Pada video klip milik Ariana tersebut, ia membintangi sendiri music videonya. Ia  tampil sangat berani dengan hanya menggunakan lacey lingerie berwarna hitam dengan hiasan pita berwarna senada—yang pastinya bukan jenis pakaian yang pantas untuk digunakan saat tampil di depan umum. Model pakaian dalam wanita ini sempat ia gunakan juga sebagai foto sampul album sebelumnya berjudul My Everything yang dirilis pada tahun 2014. Gestur yang ia tampilkan di music video tersebut terbilang ‘panas’ dan bersifat seducing. Dengan durasi empat menit lebih ini, video klip terbarunya hanya mengandalkan konsep daya tarik seksual dari penyanyinya saja.

Selain itu, music video yang cukup berani tersebut tidak memiliki proteksi dalam pengaksesannya. Pengguna Youtube dapat dengan bebas menonton tanpa harus melalui syarat, yang seharusnya dilalui terlebih dahulu. Entah kecolongan, atau memang pihak Youtube tidak menganggap video ini tergolong dalam kategori Rated. Padahal, pengguna Youtube saat ini tidak hanya yang berumur di atas delapan belas tahun, tapi banyak sekali anak-anak di bawah umur yang setiap harinya menjadi konsumen tetap situs ini.

Tanpa dibedakan oleh alasan agama, tontonan yang sehat dan berkualitas adalah hak setiap anak di dunia. Karena, anak-anak memiliki daya serap yang cepat namun tidak memiliki cukup bekal psikologis untuk dapat menyaring semua informasi yang diterima. Oleh karena itu, kesadaran para pembimbing—orang yang lebih dewasa—khususnya para orang tua adalah hal yang sangat penting. Anak-anak di bawah umur boleh saja diberi kemudahan dalam mengakses segala macam informasi yang diinginkan. Namun, harus selalu ada batasan, bahkan dalam kebebasan sekali pun. Pembekalan moral wajib ditanamkan sejak dini, agar tidak semakin memperburuk degeneration of morality di jaman yang semakin dewasa ini.

Melalui music video milik Ariana Grande tersebut, semakin memperjelas tentang permasalahan dari proses pendewasaan jaman—yang sering disebut sebagai jaman modern—yakni degeneration of morality. Atas nama seni, seks dan pornografi terkesan seperti budaya baru ciptaan industri media. Video tersebut berusaha membentuk female identity menurut perspektif media. Mulai dari phsycal appearance sampai pada behaviour yang diperagakan model pada video tersebut, media telah menjadikan female identity sebagai simbol seks yang—tentu saja—diminati audience. Media seenak jidat menggunakan the role of female—which is not, ‘they’ use the role of female identity, karena yang lebih tepatnya media hanya menggunakan identitas buatan, milik kaum hawa yang mereka jadikan sebagai pemanis di industrinya. Jadi, butuh pemahaman dari sudut pandang penikmat media yang dewasa untuk menyadari: sangat amat tidak akan pernah tepat jika keberadaan kaum hawa di industri media selalu dikaitkan dan dijadikan simbol seks, atau pornografi atau apa pun itu. Karena, selain hal tersebut adalah sesuatu yang memang sengaja media ciptakan untuk dikual dan dikonsumsi publik, media hanya menggunakan identitasnya saja. Tidak pernah berarti apa yang ada di media merefleksikan apa yang ada di dunia nyata.

Sang Dia

Saya sangat suka membaca. Terutama buku—yang berbahan baku kertas. Teristimewa novel. Genre favorit? Fiksi ilmiah. Tapi percayalah, saya pelahap segala. Tidak sampai mengoleksinya di perpustakaan atau semacamnya sih. Di antaranya, tersisiplah Dia: Sang Novel Pertama.

Penyakit adalah suatu momok tersendiri bagi kebanyakan orang, terlebih jika penyakit yang diderita adalah kanker. Kanker termasuk salah satu penyakit ganas yang beberapa pada kasusnya masih belum ditemukan obat sampai saat ini. Alaminya sel kanker telah tertanam dalam setiap tubuh manusia begitu terlahir ke dunia. Jadi, setiap manusia yang hidup, memiliki bibit sel kanker di dalam tubuhnya. Maka, sesungguhnya setiap manusia memiliki peluang untuk mengidap penyakit ini.

Dampak perubahan yang ditimbulkan dari penyakit mematikan ini sangat beragam bagi kondisi fisik dan psikis penderitanya. Dampak psikologis adalah dampak yang akan sangat dirasakan perubahannya bagi para penderita yang telah divonis mengidap kanker. Perubahan fisik yang paling sering dialami adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh pengidapnya. Sementara, perubahan psikis yang paling dominan dirasakan adalah ketidakstabilan emosi, runtuhnya keyakinan pada hidup. Emosi seperti kecewa, sedih, gelisah, putus asa, dan takut adalah bentuk ekspresi yang paling sering diluapkan.

Sally Nicholls berusaha membagikan semangat hidup bagi pengidap kanker dengan menerjemahkannya ke dalam karya tulis. Ia menulis sebuah novel yang bercerita tentang bagaimana kanker sangat berpengaruh terhadap kehidupan penderitanya dari sudut pandang seorang bocah pengidap kanker.

Sally Nicholls adalah seorang penulis wanita berkebangsaan Inggris. Lahir di Stockton tepatnya di Tees, 22 Juni 1983, 33 tahun yang lalu. Sewaktu kanak-kanak ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca, seperti buku-buku karangan Isaac Asimov, Noel Streatfeild, dan Frances Hodgson Burnett. Setelah Nicholls menyelesaikan sekolahnya, ia bekerja untuk sebuah Rumah Sakit Palang Merah di Jepang.

Nicholls pernah berpetualang keliling Australia dan Selandia Baru sebelum ia kembali lagi ke Inggris untuk mengambil gelar sarjananya dari jurusan Filsafat dan Sastra di University of Warwick, kemudian Nicholls melanjutkan mengambil gelar Master of Art-nya dalam bidang Writing for Young People di Bath Spa University—tempat dimana dia mengarang novel pertamanya—Ways to Live Forever—dan mendapat hadiah dengan dinobatkan sebagai “Penulis Paling Potensial” atasnya.

Nicholls sejauh ini telah mengarang sebanyak tujuh novel. Ways to Live Forever adalah salah satu dari ketujuh novel yang berhasil ia terbitkan dan menjadi novel perdananya. Novel ini berbentuk jurnal harian seorang bocah pengidap leukemia yang bercerita bagaimana cara yang keren dan kreatif sang bocah ketika berjuang melewati hari-harinya. Berisi tentang daftar-daftar: yang terdiri dari beberapa daftar tentang kegiatan, fakta-fakta unik, pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, cerita keseharian sang bocah, gambar-gambar aneh yang menarik perhatiannya, serta berbagai pertanyaan yang sempat ia kumpulkan.

image

Samuel McQueen, bocah laki-laki berumur 11 tahun asal Kanada yang sudah divonis mengidap kanker darah sejak ia berumur 8 tahun. Tidak seperti kebanyakan buku yang menceritakan kisah hidup seorang pengidap penyakit kronis secara melankolis, Ways to Live Forever memiliki sudut pandang yang lebih relevan dari seorang pengidap kanker. Bahwa seberapa pun singkatnya hidup yang dimiliki, realistis adalah cara yang lebih tepat untuk menjalani sisa hidup—di banding hanya sia-sia meratapinya dalam sendu.

Ketika di rumah sakit Sam bertemu dengan sahabatnya, Felix. Seperti halnya Sam, Felix juga salah satu pasien kemoterapi di rumah sakit tempat Sam dirawat. Berbeda dengannya, Felix berjuang dari kanker paru-paru stadium akhir. Bersama Felix, ia sering melewati hari-hari bersama. Tempat mereka menghabiskan waktu adalah di rumah sakit, sekolah-rumah, dan klinik. Mereka berdua menjalani kehidupan ala anak-remaja-yang-sedang-puber senormal mungkin dengan mencoba pengalaman-pengalaman sinting yang takkan terlupakan.

Sam dan Felix sekolah di rumah karena orang tua keduanya berpikir bahwa mereka tidak perlu pergi ke sekolah reguler. Guru mereka, Mrs. Willis, suatu hari memberikan mereka tugas selama liburan musim panas untuk menulis. Di sinilah awal ia menulis. Sam mempunyai gagasan untuk membuat jurnal harian. Sebenarnya ia tidak terlalu suka menulis, apalagi menulis tulisan yang penuh dengan tulisan. Jadi ia memutuskan untuk mengisi jurnalnya dengan daftar-daftar, fakta-fakta, pertanyaan-pertanyaan dan segala hal yang menarik baginya.

Sam bercita-cita menjadi ilmuwan untuk hal-hal yang di luar dari kenormalan. Jadi gagasan untuk menulis cukup menarik perhatiannya. Ia dapat menuangkan ide-ide gilanya ke dalam jurnal miliknya. Apalagi Mrs. Willis bilang ia dapat menulis kapanpun yang ia mau, jadi jika ia sedang tidak ingin menulis tak akan ada yang memaksanya untuk itu.

image

Jurnal hariannya bukan jenis buku diari cengeng. Segala macam hal yang ia sisipkan dalam jurnalnya adalah hal-hal yang menurutnya keren. Walau tidak berniat mengerjakan tugas liburan musim panas—yang menurut Felix sangat konyol—Felix ikut ambil andil dalam pembuatan jurnal harian Sam ini.

Namun, tiba-tiba di pertengahan pembuatan buku Felix meninggal. Akankah Sam masih memiliki semangat yang tersisa untuk dapat menyelesaikan bukunya? Apakah pertanyan-pertanyaan yang ia temukan memiliki jawaban? Saya sarankan untukmu mencari tahu lebih-dalam-tentang-apa-yang-terjadi-dalam-cerita-di-novel-ini sendiri.

Walaupun buku lama tetap menarik, bukan? Coba bongkar dan periksa koleksi perpustakaanmu—yang walaupun kecil atau mungkin tidak punya sama sekali—barangkali ada beberapa koleksi buku favorit yang berkesan, namun tanpa sengaja terlupakan olehmu karena tergolong buku lama. Siapa yang tahu jika berbagi cerita dengan sesama pembaca, dapat saling tukar koleksi yang menarik?

Atau,

Untuk yang tak suka membaca, bagaimana jika mulai untuk mencoba beberapa bacaan. Novel adalah permulaan yang bagus. Saat ini genre novel banyak sekali di dunia. Jadi, jangan sampai beralasan jika pembaca novel itu akan terlihat kuno, cengeng, membosankan atau apa pun itu. Leaders are readers, dude.

Dia dan Mimpi Bodoh

Saya mencoba mengingat kembali mimpi kemarin malam dengan menulisnya.
Mimpi tentang kawan lama yang sudah usang.
Saya putuskan untuk tidak memberitahu kalian siapa namanya.
Dia terlihat cantik saat itu.
Cantik yang persis seperti selera saya.
Tahu ‘kan?!
Baiklah, sudah pasti kalian tidak tahu.

Kulitnya cokelat.
Rambutnya terlalu lurus dan pendek sebahu.
Seperti terakhir kami berdua bertemu.
Gaya riasan dewasa di wajahnya yang maskulin.
Di sana, kami tidak hanya berdua.
Di sana, ada Mahe dan Boja juga.
Kami bertiga.
Berempat sih, jika Dia dihitung juga.
Saat bertemu kami bertiga, Dia bilang sakit hati pada kami.
Dan ingin bertemu untuk balas dendam.
HA-HA kami ingin dibunuh.
Dibunuh saat itu juga, di sana, oleh Dia.

Entah apa maksud mimpi bodoh itu.
Baik Dia, Tuhan mau pun saya, kita sama-sama tahu alasan dasar mengapa-semua-ini-bisa-bisanya-terjadi.
Jauh sebelum datangnya si mimpi bodoh ini.
Yang pasti saya rindu kawan lama yang usang itu.
Bagaimana denganmu, Dia?!

Melihat Dunia dari Sini

Dunia luas. Dunia memang luas dan amat luas. Semua orang tahu. Mungkin, semua orang ingin melihat seperti apa dunia yang luas itu. Tapi, apakah semua orang ingin melihat seperti apa dunia dari tempat saya berada saat ini?

Bekasi. Saya sedang duduk di sini, membayangkan betapa luasnya dunia di luar sana dari tempat saya berada sekarang. Dan sepertinya orang lain tidak akan terlalu mempedulikan: seperti apa dunia dari sini? Melihat dunia dari sini, melihat dunia dari tempat saya berada.

Lab Utama di Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa, ruangannya tidak luas, namun dingin dan selalu bersih karena masih terbilang baru. Walaupun, pintu kacanya tidak demikian. Pintu kacanya kumal dengan banyak bekas tempelan perekat kertas. Pasti dulu banyak kertas yang ditempel pada pintu kaca ini yang sekarang dibiarkan lowong. Karena sepertinya noda bekas perekat yang pernah menempel enggan pergi. Mungkin dulunya pintu kaca ini bersih dan mengilap.

Pandangan saya beranjak dari kawanan noda pintu kaca, ke objek yang berada tepat di depan pintu kaca. Kebetulan ada tiga objek yang langsung mendapat fokus saya yang tampak dari dalam sini; taman baru yang tidak terlalu indah karena beberapa tanaman menjemukannya, kursi kayu panjang dengan meja yang serupa tempat para dosen Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa bersenda gurau, serta tangga sempit bercat hitam kecokelatan yang sudah terkelupas untuk menuju ke rumah para pemilik yayasan Universitas Islam 45—kampus saya.

Saya mulai benar-benar jenuh berlama-lama di dalam sini. Disuguhkan pemandangan yang sama. Jadi, saya memutuskan ke luar ruangan untuk menghirup udara di luar yang tidak terkontaminasi dengan udara buatan dari pendingin ruangan. Walaupun sedang di Bekasi, entah mengapa udaranya terasa sangat sejuk. Sedang hujan memang. Tentu saja, karena bulan ini termasuk dalam musim hujan.

Entah hanya perasaan saya yang terasa mengada-ngada, atau di luar sini udara terasa lebih dingin. Bukan sejuk. Tanpa pendingin udara buatan, saya dapat secara langsung merasakan udara dingin yang sesungguhnya. Dari luar ruangan, hujan terasa lebih nyata. Pertunjukan sensasi hujan yang tidak hanya secara visual namun audio dan kinestetik seperti dengan sengaja dipamerkan untuk saya. Hujannya santai, tidak riuh dengan gemuruh angin. Tidak juga hujan yang hanya kawanan tetesan air. Terasa pas jika terkena kulit. Hingga rasanya ingin mandi hujan.

Catfeline; Melihat Dunia dari Sini - Gambar Pendukung 1
Salah satu bagian dari pertunjukan hujan.

Ada yang menarik selain sensasi hujan, ternyata tanpa sadar saya sedang menapak tepat di atas jejak hujan yang sama nakalnya dengan noda bekas perekat kertas di pintu kaca tadi. Sama-sama keras kepala enggan menghapus jejaknya. Jejak hujan selalu meninggalkan noda yang lebih nakal dari noda pada pintu kaca Lab Utama tadi.

Hari semakin sore saat saya mulai menyadarinya. Rasanya segera beranjak dan pulang adalah keputusan yang tepat. Lagi pula awan kelabu yang membawa hujan tadi sudah berarak pulang mendahului saya.

Cileungsi. Sepertinya jika di Bekasi tadi hujan sempat mampir, Cileungsi tidak memiliki tanda-tanda hujan. Kemungkinan hujan sudah mampir saat di pagi hari atau malam hari ketika orang-orang masih pulas. Tidak setitik tempat pun ada yang basah, tanda telah diguyur hujan. Seperti kaca jendela kamar saya yang penuh disesaki debu yang menahun. Tertera pula pola-pola bulir hujan yang sudah mengering dan menyatu dengan tumpukan debu. Seperti lukisan yang dibuat tanpa sengaja. Pada tiap sudut kacanya dihinggapi sawang, tanda tak pernah tersentuh tangan-tangan rajin. Untuk apa juga saya rajin membersihkannya? Debu akan dengan senang hati lebih rajin mampir di banding saya.

Catfeline; Melihat Dunia dari Sini - Gambar Pendukung 2
Lukisan menahun (yang misterius).

Jika jendela kamar tidak dibuka, saya tidak bisa melihat dengan jelas dunia di luar sana dari dalam kamar. Jadi saya selalu membuka jendela kamar, bila ingat. Hanya bila ingat. Dari sini dapat saya merasakan hangatnya kilau mentari walau lebih dari berjuta-juta mil jauhnya. Kebetulan dari sini saya dapat menikmati dengan puas sinar milik matahari yang terkadang menyebalkan. Pada musim kemarau jangankan sinarnya, saya sangat kesal dengan kilaunya. Membuat suhu kamar semakin naik dan saya tidak akan suka berada di kamar.

Tidak terlalu banyak hal yang dapat dilihat dari jendela kamar ini. Beginilah kurang lebih rasanya tinggal di permukiman kota kecil. Banyak yang menyekat jangkauan mata untuk melihat dunia. Tapi memang seperti itulah dunia ini, bukan? Bersekat.

Saya tinggal di perumahan sederhana. Bukan real estate mentereng yang sekatnya tersususun rapi. Di perumahan yang saya tinggali, permukiman menjelma menjadi penyekat yang chaos. Sama sekali tidak sedap dipandang jika diukur dari nilai estetika. Masa bodoh rapi atau tidaknya. Dunia tetap saja bersekat. Tetap saja ada yang menghalangi pandangan untuk mengukur atau sekadar melihat betapa luasnya dunia. Jadi tentu tidak ada bedanya untukmu yang barangkali tinggal di real estate mentereng, atau pun saya yang tinggal di permukiman pinggir kota kecil.

Saya kembali berkontemplasi tentang pertanyaan awal tadi, “Seberapa luaskah dunia ini?” atau “Terlihat seperti apa ya dunia yang luas ini?” Tidakkah beberapa pertanyaan itu terlalu omong kosong? Mengukur dunia yang tentu-saja-sangat-luas ini agar tahu seluas apa dunia sebenarnya, atau mendambakan berkeliling dunia dari ujung ke ujung hanya untuk mengetahui seperti apa dunia. Saya pikir, melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang itu bagus. Mungkin dalam hal ini dimulai dari yang paling sederhana: melihat dunia dari tempat berpijak saat ini. Kesederhanaan adalah kesempurnaan. Entahlah.

Potret Sang Penyelamat: Ompreng Rute Jonggol, Cileungsi, Bekasi

Saya hampir telat dan harus merelakan sepeda motor ditinggal di penitipan. Tanpa diduga, razia polisi lalu lintas membuat saya panik! Pasalnya saya tidak ber-Surat Ijin Mengemudi, jadi terpaksa harus memutar balik arah. Satu-satunya jalan keluar dari kepanikan hanyalah memutuskan naik angkutan umum. Angkutan umum macam apa? Bus Ompreng sebutannya.

Bus Ompreng yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba setelah kurang lebih tiga puluh menit menanti. Saya dapat mengenalinya dengan mudah. Tampilan fisik dari Bus Ompreng mudah membekas di ingatan; ukurannya tidak besar tidak juga kecil jika di banding bus lain, dekorasinya ramai dan norak, biasanya berwarna mencolok—yang kali ini saya naiki perpaduan antara warna kuning, putih, biru tua dan merah muda.

Sticker tulisan dengan ukuran luar biasa besar biasanya hal pertama yang dapat dilihat dari kejauhan pada tiap Bus Ompreng. Tak ketinggalan petunjuk rute arah perjalanannya, yakni Jonggol, Cileungsi, Bekasi.

Oh ya satu lagi, dan hal ini membuat Bus Ompreng begitu unik: rongsok. Bus Ompreng memiliki penampilan fisik yang menyerupai rongsokan. Mungkin beberapa orang akan terheran-heran, kenapa bus sejelek ini masih saja dioperasikan? Namun, saya tetap menyukai sisi rongsok dari Bus Ompreng, yang membuatnya terlihat keren.

Masalah ongkos yang dibebankan kepada penumpang pun sangat murah. Hanya dengan 6,000 rupiah, saya sudah bisa duduk dengan manis—jika cukup beruntung mendapat tempat duduk—di dalam bus sampai di kampus. Alasan ini wajib menjadi perhitungan untuk pertanyaan tentang penampilan fisik Bus Ompreng. Harga tidak bisa berbohong, ya kan?

Pemandangan di dalam sini sangat unik. Jenis pemandangan yang tidak mungkin ditemui jika saya bersepeda motor. Saya dapat dengan jelas melihat tengkuk beberapa penumpang. Kebanyakan tengkuk-tengkuk yang ada di sini berpeluh. Tapi tidak halnya dengan saya, duduk manis dengan rambut yang menurut ke mana pun arah angin ingin bertiup. Pasti akan lebih terasa sejuk jika penumpangnya tidak seramai seperti saat ini.

Beberapa penumpang terlihat menikmati perjalanan sambil tertidur pulas. Entah mana yang lebih mereka nikmati. Menikmati perjalanan atau menikmati tidur siang mereka di dalam bus atau mungkin menikmati keduanya. Saya takjub tentang betapa lelahnya mereka sampai—bisa-bisanya—terlelap di sini?

Tak banyak yang dapat dilihat dari tempat duduk saya selain keseluruhan kursi Bus Ompreng yang berwarna hitam. Hitam mungkin dulunya. Hitam yang memang hitam. Kalau sekarang, warna hitamnya tidak seperti hitam. Kursinya, yah compang-camping…

Coretan tipe-x dari tangan para seniman nakal menjadi perias. Besi penyangga kursi yang berkarat menjadikannya berwarna coklat keemasan. Banyak robekan yang menciptakan lubang hampir seukuran kursinya. Busa di bagian dalam kursi yang didesign untuk menimbulkan kenyamanan saat duduk, kini menyembul keluar. Debu menahun berpadu menjadikannya lapisan balutan yang mengubah penampilan kursi-kursi Bus Ompreng.

Tak banyak yang dapat dilakukan selama perjalanan. Selain mengedarkan pandangan ke tiap celah-celah yang tidak terhalang kerumunan penumpang atau apa pun itu. Kurang kerjaan sih. Kalau boleh jujur, sebenarnya sejak awal saya menahan rasa pusing dan mual. Udaranya panas dan pengap. Semua orang saling berhimpitan. Tersenggol atau ketampol tanpa permintaan maaf bukan hal yang mengejutkan di sini. Belum lagi sensasi bau udara yang dihirup percampuran antara debu, keringat dan knalpot bus. Bau knalpot mengepul paling medominasi. Membuat saya melupakan rasa panik yang tadi sempat mampir.

Seperti itulah Bus Ompreng. Bagaimana pun gambarannya, ‘dia’ tetaplah penyelamat bagi saya. Saya tetap utuh sampai di kampus. Bus Ompreng tetaplah keren. Karena alasan itulah saya memperkenalkan ‘dia’. Terima kasih atas ‘penyelamatan’nya. All hail Bus Ompreng!

dalem bus
Hal langka yang entah harus dilestarikan atau tidak: tiap sentimeter celah kosong.

A very-full-of-love-and-warmth greeting

Well, this is more than a ‘hello’ or even a ‘hi’. So, what is this? I don’t know. Just read.

Aow! My name is Catfeline. Catfeline is not from word ‘cat’ blended with ‘feline’. Catfeline is catfeline. If you trying to search my name in Oxford or Merriam Webster dictionary, I bet you will not find me out. The reason is…my name is just a name, like yours—probably. Well, that is not my real name. But I’d love my reader fellows to know that name rather than my real name. Mmn, I suck in public talking, so I write more. I am a bad drawer, so I read a lot. I am a perfectly imperfect, so what? That just me, this is me. I am weird. It’s okay, I love it.

Blog at WordPress.com.

Up ↑